Rindu, mungkin itu adalah ungkapan yang paling cocok antara aku kau sekarang mas!
Pertemuan adalah garis finish yang kita nanti, jarak adalah lawan terkuat dari hidup, waktu melemah dan melambat untuk untukmerangkai pertemuan kita. Aku tak bersabat dengan mereka mas. aku tidak bisa melakukan penawaran untuk mempercepat pertemuan kita. Hanya terus menunggu. hanya itu yang bisa aku lakukan sambil memperbaiki diri. Pertemuan itu membelengguku, aku yang selalu terbayang - bayang akan kisah cinta kita yang romantis disepanjang baitnya, selalu ada senyum manis disetiap akhir cerita tapi itu hanya sebatas dugaanku tidak untuk kenyataan yang sekarang. aku memberontak, tidak dengan siapa - siapa hanya dengan aku sendiri, aku yang selalu berdialog pribadi dengan diriku sendiri. Mengganggap diriku ganda agar dapat berdiskusi bersama. dan aku berpura - pura acuh dihadapanmu dengan pertemuan yang aku impikan, bukankah aku sanggat hebat untuk bersandiwara, mas?.
pertemuan itu!
ternyata pertemuan itu mengajukan syarat, aku dan kau tercengang heran akan apa yang dia minta. Kau tepat disampingku mas, tapi serasa sangat jauh. tak bisa ku dekap, tak bisa kugenggam, kau rupanya tak bisa terjamah olehku sekarang. kau menjauh, sangat jauh, jarak ambil kendali akan mandat dari pertemuan. sempurna sudah kita terpisah bukan lagi pertemuan yang kita idamkan dan aku harus merubah presepsi ku akan garis finish dan makna dari sebuah pertemuan. kini pertemuan bukanlah bertemuanya kedua bola mata kita, bukanlah lagi kita yang bisa berjabat tangan, bukan juga kita yang bisa selalu bersama dalam satu waktu untuk menggerus waktu dengan tawa. sekarang pertemuan adalah bertemunya kita dalam satu ikatan, ikatan yang pasti untuk masa depan. masa depan yang mengantarkan kita dalam gerbang pertemuan, yang abadi dimana waktu menjadi sahabat sejati dan jarak melemah dan kunjung pergi. pertemuan adalah momen bahagia milik kita mas.
aku melewati masa sulit sebelum pertemuan itu datang. aku yang menahan rindu agar tidak sering - sering datang, aku yang selalu meradang karena ketidak pastian akan sebuah pertemuan. aku lepas kendali, tak bisa lagi mengerti aan apa yang aku mau, lupa caranya untuk mengadu,tak tau caranya harus mengadu, binggung kepada siapa harus mengadu,lupa caranya untuk menangis, dan aku buta dengan keadaanku sendiri. dilema hati aku smpan rapi dalam diriku, aku yang selalu memakannya sebagai hidangan utama pagi dan petang disepanjang hari. aku kalut, aku kalut sayang. aku ingin bercerita banyak denganmu akan bagainama buruknya keadaanku sekarang, tapi aku tak bisa, aku lupa cara untuk mengawalinya. sayang lumpuhkanlah jarak yang memisahkan kita ini, aku tak kuat dengan dilema yang selalu mengancamku sepanjang hari. sayang cepat datanglah, janjiakanlah sebuah pertemuan untukku agar aku bisa bertahan setidak untuk mempertahankan nafas yang sudah tersengal-sengal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar