Rabu, 27 Mei 2015

lailinayah: Diam – diam Suka

lailinayah: Diam – diam Suka: Diam – diam Suka Dari sudut tersempit putih abu-abu kau menyimpan rasa Kau sorot aku dan tak bertanya Aku pun tak merasa Suatu sa...

Diam – diam Suka

Diam – diam Suka

Dari sudut tersempit putih abu-abu kau menyimpan rasa
Kau sorot aku dan tak bertanya
Aku pun tak merasa
Suatu saat ketika kita berjabat
Hatiku tergetar
Kemudian hari aku tau
Diam – diam suka!

Hai,
Sejak kapan kau memperhatikan aku? 
sejak kapan kau memaligkan wajahmu untuk melihatku?
sejak kapan kau mencuri pandang kepadaku?
dan,
sejak kapan kau mengagumi aku?

 Entah, entahlah. aku tak tau pasti kapan itu terjadi. Aku yang bertingkah super biasa dan tak sedikitpun memandangmu ada saat itu. kau hanya puas melihat punggungku dari meja paling belakang, dan dapat mencuri potret wajahku saat aku menoleh belakng tanpa sengaja. aku tak menyadari,bahwa kau bisa bertahan berbulan-bulan hanya untuk melihat punggung orang yang kau kagumi. sungguh luar biasa, kau yang diam-diam menyimpan rasa. hari berjalan dengan ciri khasnya dan aku hanya menjalani hariku dengan lakon pelajar dua sma yang ingin menjadi orang terpandai dikelas. semangat menimba ilmu yang selalu aku bawa setiap aku bangun pagi, hanya fokus terhadap orientasiku saja yang aku pikirkan. menjadi siswi terpandai dikelas dan lolos PTN Negeri itu saja, dan tak ingin kisah romansa seperti remaja pada umumnya.
 Sejak hasil tengah semester itu dibeberkan didepan mata kami pada siswa siswi tingkat akhir, aku tercengang akan hasilku yang mengecewakan. aku tertunduk malu kepada orientasi yang kuperjuangkan dengan kuat. Tuhan memilki jalan lain yang lebih indah, ku semangati diriku sendiri agar tidak berputus asa. anak satu kelas heboh membicarakan salah satu siswa yang memiliki nilai dominan baik disetiap mata pelajaran didalam kelas, dan ternya itu kau zafian zahfan yang diam-diam mencuri pandang kepadaku. disaat itu dan pada detik itupun aku menganggapmu sebagai orang yang harus aku istimewakan, karena kepiyawaianmu dalam mengendalikan logika dan sudut pandang. aku mendekatimu dan berlaga sok kenal seperti gadis lain yang ada didalam kelas. aku sapa kau dengan sedehana dan kutanyakan kenapa kau bisa memilki nilai yang baik dalam setiap mata pelajaran. singkat saja kau jawab, bahwa disetiap harimu kau memilki jadwal yang tersruktur dan kau tepati. 
  aku harus semangat belajar, agar menjadi yang terpandai dan berhasi masuk perguruan tinggi negeri di bumi pertiwi. kalimat itu selalu aku pegang teguh untuk menyemangi aku setiap hari.saat itu kondisi kelas sangat ramai, semua berkumpul dan bermain dibangku paling belakang ambil tertawa menggelegar. ternyata itu bangkumu zafian. aku ikut mengalir dalam permainan itu dan harus ada yang kalah dari permainan tersebut. yang kalah akan diberi kesempatan untuk memilih hukuman jujur atau tantangan, dan akulah permain yang menyandang status kalah pada permainan itu. ya, aku harus memilki jujur atau tantangan. jelas saja aku jawab tantangan, dan tantangannya adalah drengdengdeng. menyatakan isi hati kepada salah satu pria, dan itu kamu zafian. 
 aku hanya tertawa dan bertingkah malu. bagaimana bisa orang seegois aku bisa menyatakan cinta kepada laki-laki yang baru kemarin aku kenal. bukan style aku banget, yah harus dijalani sih kan harus konsisten. aku julurkan tanganku telebih dahulu dihadapanmu zafian dan aku perkenalkan namaku secara formal dihadapanmu "syafiyya" dan aku menjawab "zafian". aku tersipu malu dengan kondisi hati yang terus berdegup kencang. kupaksa mulutku bersuara agar hukuman ini cepat selesai, dan kunyatakan kalimat cinta ini kepadamu diatas sebuah permainan. "zafian, aku mencintaimu, kamu mau jadi pacarku?", dengan malu-malu aku ungkapkan dan jantungku tak berhenti berdegup kencang. kau hanya tersenyum tipis, dan dan hatiku semakin berdegup kencang dengan mataku yang masih fokus pada matamu dan telapak tanganku masih lengket pada telapan tanganmu. usailah!.
 Selepas permainan itu aku semakin akrab denganmu, entah prekursor apa yang kau gunakan untuk memikat aku. aku saling beradu tawa denganmu setiap hari. kau yang selalu mendampingiku mengerjakan tugas entah itu pagi ataupun petang. kau yang memberi perlakuan berlebih kepadaku. kau yang menganggap aku sebagai teman terasyik untuk diajak berantem dikelas. aku yang selalu jail terhadapmu, selalu meremehkanmu untuk membuat tawa diantara kita. dan kita hanya sebagai teman, entahlah mungkin kau menggangapku lebih aku tak mau tau. hanya memberi kabar jika ada tugas yang tidak bisa dikerjakan secara mandiri atau karena ada yang tidak masuk diantara kami. samapai suatu ketika kau yang tidak masuk kelas, dan aku melayangkan pesan lewat gelombang elektromagnetik yang tak kutau frekuensinya. kutanyakan "fian, kenapa gag masuk sekolah? sakit kah?" dengan cepat kau balas "enggak, aku cuman belum setrika baju soalnya rumahku habis kebanjiran" sontak aku jawab dengan tertawaan dan berakhirlah pekan sms pada saat itu.
 waktu terus berjalan maju dn aku semakin tau akan kau yang mengagumiku dalam diam. namun tetap saja aku berpura-pura tak tau agar tidak ada kecanggungan diantara kita. sampai suatu hari ketika ada praktikum golongan darah pada lab biologi. zafian adalah kelompok yang meja kerjanya tepat ada didepan meja kerja kelompokku. aku yang berkeinginan bekerja dalam bidang medis sangat senang karena adanya praktikum tersebut tapi tak sama denganmu zafian. kau seperti ketakutan karena akan diambil darahmu sebagai sampel untuk mengetahui golongan darah. kau terdiam dan memasang wajah gugup diatas meja kerjamu, aku yang sibuk mengambil alat tes dan tersenyum kecil ketika melihat ekspresi wajahmu. dengan nada lembut kau bilang kepadaku "syafiyya nanti tolong kamu aja ya yang ngambil sampel darahku" aku jawab "iya, sebentar ya nunggu kelompokku selesai dulu". 
 Miris, upaya tunggumu tiada guna. miranda sudah mewarkan jasanya untuk mengambil sampel darahmu, dan aku hanya melirik kearahmu dan tersenyum tipis. kau memalingkan muka dan tak ingin melihat warna darahmu sama sekali. lalu aku menghampirimu dan bertanya "kamu takut darah?" dengan malu kau menjawab "iya" setelah itu aku sontak tertawa. kau hanya memasang ekspresi pasrah karena tertawaanku. praktikum selesi dan golongan darahku A, sedangkan golongan darah zafian B. praktikum telah selesai dan kami kembali kedalam kelas untuk melaksanakan pelajaran lanjutan. 
 hari itu terus berlalu hingga hampir 3/4 perjalanan dari kelas 2 sma. entah apa yang terjadi pada hari itu seolah anak-anak perempuan didalam kelas memberitahuku bahwa zafian menyukai aku. aku tak menganggapnya nyata, dan aku tetap berpura-pura acuh dan menggumam didalam hati "bagaimana mungkin dia menyukai aku? bukannya sepekan lalu sudah ada wanita lain yang menyatakan cinta kepadanya. jika dia memng benar mencintaiku bukankah dia akan menyatakan perasannya kepadaku, tapi sampai detik inipun tak terucap kalimat itu darinya". beberapa hari setelah itu ternyata kau berkunjung kerumahku, dengan aku hanya menemuimu dengan pakaian rumah biasa. kau beri aku coklat dan berkata "syafiyya, aku sudah suka sama kamu sejak kita masuk kelas 2 sma. dan sampai detik inipun perasaan itu tetap ada didalam hatiku. aku mencintai kamu syafiyya, kamu mau enggak jadi pacarku?". aku gugup dan tidak bisa berpikir secara normal. logikaku terhenti janungku berdegup kencang seadanya yang terlintas dipikiranku aku ucapkan "habis gini kan kamu presentasi buat tugas fisika, lebih baik kamu pikirin itu dulu nanti setelah itu aku jawab" dan kututup dengan senyum manis diakhir kalimat. kau langsung pamit pulang karena hari yang sudah larut malam, aku bingung harus menjawab apa untuk pertanyaanmu itu. entahlah santai dulu jangan terlalu diambil pusing syafiyya.

Selasa, 21 April 2015

perhatianku ancaman bagimu

wait

RINDU

Rindu, mungkin itu adalah ungkapan yang paling cocok antara aku kau sekarang mas!
Pertemuan adalah garis finish yang kita nanti, jarak adalah lawan terkuat dari hidup, waktu melemah dan melambat untuk untukmerangkai pertemuan kita. Aku tak bersabat dengan mereka mas. aku tidak bisa melakukan penawaran untuk mempercepat pertemuan kita. Hanya terus menunggu. hanya itu yang bisa aku lakukan sambil memperbaiki diri. Pertemuan itu membelengguku, aku yang selalu terbayang - bayang akan kisah cinta kita yang romantis disepanjang baitnya, selalu ada senyum manis disetiap akhir cerita tapi itu hanya sebatas dugaanku tidak untuk kenyataan yang sekarang. aku memberontak, tidak dengan siapa - siapa hanya dengan aku sendiri, aku yang selalu berdialog pribadi dengan diriku sendiri. Mengganggap diriku ganda agar dapat berdiskusi bersama. dan aku berpura - pura acuh dihadapanmu dengan pertemuan yang aku impikan, bukankah aku sanggat hebat untuk bersandiwara, mas?.


pertemuan itu!
ternyata pertemuan itu mengajukan syarat, aku dan kau tercengang heran akan apa yang dia minta. Kau tepat disampingku mas, tapi serasa sangat jauh. tak bisa ku dekap, tak bisa kugenggam, kau rupanya tak bisa terjamah olehku sekarang. kau menjauh, sangat jauh, jarak ambil kendali akan mandat dari pertemuan. sempurna sudah kita terpisah bukan lagi pertemuan yang kita idamkan dan aku harus merubah presepsi ku akan garis finish dan makna dari sebuah pertemuan. kini pertemuan bukanlah bertemuanya kedua bola mata kita, bukanlah lagi kita yang bisa berjabat tangan, bukan juga kita yang bisa selalu bersama dalam satu waktu untuk menggerus waktu dengan tawa. sekarang pertemuan adalah bertemunya kita dalam satu ikatan, ikatan yang pasti untuk masa depan. masa depan yang mengantarkan kita dalam gerbang pertemuan, yang abadi dimana waktu menjadi sahabat sejati dan jarak melemah dan kunjung pergi. pertemuan adalah momen bahagia milik kita mas.


aku melewati masa sulit sebelum pertemuan itu datang. aku yang menahan rindu agar tidak sering - sering datang, aku yang selalu meradang karena ketidak pastian akan sebuah  pertemuan. aku lepas kendali, tak bisa lagi mengerti aan apa yang aku mau, lupa caranya untuk mengadu,tak tau caranya harus mengadu, binggung kepada siapa harus mengadu,lupa caranya untuk menangis, dan aku buta dengan keadaanku sendiri. dilema hati aku smpan rapi dalam diriku, aku yang selalu memakannya sebagai hidangan utama pagi dan petang disepanjang hari. aku kalut, aku kalut sayang. aku ingin bercerita banyak denganmu akan bagainama buruknya keadaanku sekarang, tapi aku tak bisa, aku lupa cara untuk mengawalinya. sayang lumpuhkanlah jarak yang memisahkan kita ini, aku tak kuat dengan dilema yang selalu mengancamku sepanjang hari. sayang cepat datanglah, janjiakanlah sebuah pertemuan untukku agar aku bisa bertahan setidak untuk mempertahankan nafas yang sudah tersengal-sengal.




Minggu, 12 April 2015

lailinayah: Keyakinanku Benar, Hai Wanita Jalang

lailinayah: Keyakinanku Benar, Hai Wanita Jalang: cerita ini berawal dari aku yang tidak pernah bersyukur akan apa yang aku dapat. aku yang selalu menuntutmu menjadi yang terbaik, tanpa sal...

Keyakinanku Benar, Hai Wanita Jalang

cerita ini berawal dari aku yang tidak pernah bersyukur akan apa yang aku dapat. aku yang selalu menuntutmu menjadi yang terbaik, tanpa salah sedikitpun. aku terlalu perfeksionis dengan indikatorku sendiri, tapi tak ada usaha yang aku lakukan buatmu untuk mencapai indikatorku. kubiarkan kau berproses sendiri, tanpa uluran tanganku bahkan menanyakan keluhmu saja tidak. jatuh bangun kau alami sendiri aku hanya duduk terpaku diatas tebing dan melihatmu dengan acuh. sudah kulihat jatuh bangunmu dari atas tapi aku hanya diam karena aku rasa jatuh bangun adalah bagian dari proses. kau sudah hampir mati kelelahan dibawah sana aku masih acuh dan hendak pergi. kau putus asa. akhirnya kau terperosok jauh jatuh kedalam, aku kembali namun tak melihatmu lagi. kupanggil kau sekuat tenaga tapi tak kudengar suara apapun.  aku tetap menunggumu diatas berharap kau kembali, kembali untuk menjempuku dan melewati indahnya dunia. 
benar, kau kembali. kudengar suara langkah kaki dengan penuh keyakinan untuk melangkah. aku yang menyiapkan senyuman yang indah untuk menyambutmu nanti. kau datang, aku sangat bahagia karena kau telah kembali. tapi, kembalimu bukan untukku, sudah ada wanita lian yang mendekap tangan kirimu. kau tetap melangkah maju tapi tak sedikitpun kakiku mengambil langkah untuk mengejarmu atau ingin menjauhimu. aku memutar balik posisiku mengamatimu yang bahagia melangkah dengan wanita lain. aku menagisi apa yang telah aku lakukan aku tak berubah hanya menyalahkan diriku sendiri yang telalu egois dan keras kepala. kau semakin menjauh aku semakin merintih kesakitan. aku menunggumu menoleh kebelakang, melihat kondisi yang benar-benar hancur, tapi hal itu tak kau lakukan sedikitpun.
siapa wanita jalang yang kau bawa itu? aku ingin menegurnya dengan hinaan. apakah dia yang sering kau katakan? orang yang  sering meminta bantuan kepadamu. apakah dia orangnya? tak ada jawaban hanya kehampaan yang aku dapat, kuhabiskan sisa ketegaranku untuk mencari tau latar belakang wanita jalang itu. tak membutuhkan waktu lama. kini aku tau, kau memanglah orang yang tak tau malu. benar-benar wanita jalang. dalam diam kau perlahan menikamku, aku yang tidak pernah waspada akan hadirmu. sudahlah buat apa aku kembangkan kebencian ini, kebencian yang semakin menyiksa hari-hariku. santai saja aku lihat kau berjalan dengan wanita jalang itu, air mataku adalah bagian dari ceritamu dan canda tawamu adalah bagian dari cerita mengenaskanku. hanya ada satu alasan yang menguatkanku untuk melihat kisah romantis yang bangun. KAYAKINAN, keyakinan itu adalah makan pembuka sekaligus penutup yang dapat menguatkanmu. keyakinan bahwa wanita jalang itu hanyalah sekedar pelarian, dan nantinya kau akan kembali disini bersamaku. meninggalkan dia yang habis dilumat emosinya sendiri. 
duhai wanita jalang yang diselimuti dengan kepalsuan. terima kasih telah hadir, setidaknya cukup membantu untuk menyadarkanku. semula kau kuanggap seperti pembersih kaca untuknya dan aku hanyalah debu jalanan yang tiada arti dibanding hadirmu. susah payah kusulam waktu untuk memenuhi kaca hatinya, tapi tak berarti aku dibandingmu. sekejap saja aku hilang dan tidak berbekas, kau sungguh luar biasa dengan kepiyawaianmu. hadirmu yang lebih cepat dari pada kedipan mata mampu mengusirku jauh. sedangkan aku harus menahun untuk memenuhi kaca hatinya. namun wanita jalang,... kau bukanlah apa-apa sekarang. keyakinan yang aku bawa sudah menjadi kenyataan, kau tersungkur malu dalam medan cinta. kau adalah debu jalanan yang sekejap saja dapat kumusnahkan, kau adalah wanita jalang sang perbut kebahagiaan. aku dapat tertawa lepas sekarang, kau merintih dan tersungkur malu. salah siapa? salah siapa? kesalahanmu yang telah merebut kebahagiaan.